Ini Dia Wisata Alam yang Tersembunyi di Timur Sulawesi

Ini Dia Wisata Alam yang Tersembunyi di Timur Sulawesi

Ini Dia Wisata Alam yang Tersembunyi di Timur Sulawesi – Melakukan travelling ke Kabupaten Banggai serasa tak sempurna jika belum mengunjungi sejumlah situs wisata alam yang eksotik. Maklum, wilayah di ujung timur Pulau Sulawesi ini menyimpan beragam potensi wisata alam yang masih belum banyak dijamah. Pesona keindahan alamnya dan adat istiadat tak kalah dibanding destinasi wisata lain di nusantara.

Sayang, perkembangan wisata alam dan bahari yang ada di daerah ini belum sepenuhnya digerakan oleh investor, sehingga  pada setiap tahun penetapan anggaran pemerintah daerah melakukan intervensi dengan tujuan untuk mempertahankan potensi wisata tersebut.

Hasilnya, sejumlah obyek wisata alam di daerah ini secara bertahap mulai dikenal oleh warga dari daerah luar Kabupaten Banggai melalui promosi wisata yang dilakukan Dinas Pariwisata Kabupaten Banggai. Berikut, beberapa destinasi wisata di Kabupaten Banggai yang sayang untuk dilewatkan.

Pulo Dua, Balantak  

Wisata alam Pulo Dua atau Pulau Dua terletak di Kecamatan Balantak Utara. Untuk sampai ke pulau ini kita harus menempuh perjalan darat dari Kota Luwuk dengan jarak tempuh sekira 150 kilometer.

Pulau Dua yang berada di Desa Kampangar ini juga menjadi salah satu ikon wisata alam Provinsi Sulawesi Tengah dan merupakan salah satu destinasi yang sangat terkenal akan keindahan lautnya.

Wisata alam Pulau Dua Balantak juga mempunyai rimbunan flora endemik dan gugusan bukit serta batu karang yang menjulang tinggi membelah laut.

Di sekitar wisata alam Pulau Dua, terdapat Suku Balantak, populasinya tersebar di berbagai daerah kecamatan seperti Kecamatan Balantak Selatan, Kecamatan Lamala dan Kecamatan Masama.

Para Wisatawan juga akan melewati perkampungan nelayan yang terletak cukup dekat dengan wisata alam Pulau Dua.  Untuk sampai ke Pulau Dua cukup sulit, tetapi perjalanan yang melelahkan akan terbayar dengan keindahan yang ada di Pulau Dua.

Selain terkenal akan keindahan alamnya yang memukau, Balantak juga terkenal akan keindahan pantainya dan juga alam bawah lautnya. Bagi peng-hobby diving maka disinilah tempat yang kami rekomendasikan untuk menyalurkan minat tersebut, sebab didukung oleh airnya yang bersih, jernih dan berwarna ke biru-biruan.

Ikan di Pulau Dua memang sangat menggoda, bukan sesuatu yang mengherankan bila kita menyaksikan acara televisi seperti Mancing Mania yang melakukan aksi di Laut Balantak. Belum lengkap rasanya jika belum berkeliling ke semua pulau. Anda bisa menyewa sebuah perahu milik penduduk setempat untuk mengitari seluruh pulau yang ada di Pulau Dua.

Ada momen terbaik untuk menikmati keindahan wisata alam Pulau Dua secara maksimal saat musim kemarau. Bukit yang mirip pegunungan, bernama Tompotika, semua keindahan yang ada di pantai, gunung dan bukit akan terlihat jelas tanpa penghalang seperti kabut juga awan hitam.

Agro Wisata Salodik
Desa Salodik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Luwuk Utara. Desa ini terkenal dengan hasil pertanian yang beraneka ragam. Penduduknya mayoritas dihuni oleh suku Saluan dan warga asal daerah lainnya.
Salodik juga mempunyai obyek wisata alam yang sangat menarik bernama obyek wisata Pilaweanto Salodik, sebuah obyek wisata yang ada di dataran wisata alam lainnya. Untuk bisa ke obyek wisata alam tersebut kita harus melalui jalur darat selama 1 jam atau 27 kilometer dari Kota Luwuk.

Potensi yang dimiliki berupa air terjun yang bersih dan jernih terdiri dari beberapa tingkat tingkat dan kedalaman air  sekira 5 meter. Dari ketinggian kita dapat menikmati pepohonan yang rindang, udara yang sejuk dan dingin dihiasi pemandangan alam berupa perkebunan masyarakat sekitar Desa Salodik.

Kawasan ini termasuk dalam agro wisata karena selain memiliki pemandian yang menarik, kawasan ini juga ditumbuhi pohon pinus  dan oleh Bupati Banggai Sofhian Mile telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan hutan wisata.

Danau Tower
Wisata alam Danau Tower ini terletak di Desa Tower, Kecamatan Balantak Utara. Dengan potensi yang dimilikinya danau ini dapat dikembangkan sebagai area pemancingan bagi wisatawan.

Keberadaan sungai ini terbilang unik karena selama puluhan tahun danau ini di musim kemarau menjadi kering. Namun, belakangan  danau itu tak pernah kering dan menjadi sebuah danau bercampurnya air tawar dan air laut.

Air Molino Tontouan    
Air Malino atau bahasa lokalnya UWE Molino sebuah tempat wisata alam pemandian di Desa Tontouan, Kecamatan Luwuk. Jarak pemandian itu hanya sekitar 300 meter dari permukiman penduduk Desa Tontouan. Tempat tersebut selama ini nyaris tidak diketahui banyak orang. Di tempat itu, pengunjung dapat menikmati air yang dingin dan segar di tengah suasana alam yang masih kental.

Tidak sulit untuk mendatangi tempat tersebut, yaitu hanya dengan menyusuri jalan setapak menurun di punggung bukit Desa Tontouan. Tempat pemandian itu belum banyak diketahui warga. Karena itu, lokasi pemandian tersebut masih terbilang sepi dari pengunjung, terutama di luar hari libur.

Suasana alam di tempat itu lebih kuat jika dibandingkan dengan beberapa lokasi wisata alam lain yang mulai kehilangan kesan alamnya. Di tempat tersebut pula, belum banyak sentuhan tangan manusia karena yang terlihat adalah suasana alam yang murni.

Saat mendatangi lokasi wisata alam pemandian itu, dari kejauhan, pengunjung dapat mendengar suara gemuruh air yang mengalir deras dari kaki Gunung Tontouan. Hanya, jalan menuju tempat itu belum tertata rapi secara keseluruhan. Karena itu, para pengunjung harus berhati hati, khususnya saat berjalan menuruni jalan setapak yang melingkar di kaki gunung.

Jalan setapak di tempat tersebut baru sebagian yang telah dibuatkan anak tangga dari campuran semen dan batu, sedangkan sebagian lainnya masih berbahan bebatuan pegunungan dan kerikil lepas. Jika menuju lokasi pemandian, pengunjung harus mendatangi Desa Tontouan dan terus berjalan hingga di puncak desa itu. Di puncak Desa Tontouan, terdapat plang kecil yang bertulisan Lokasi Pemandian Uwe Molino.

Pengunjung harus berjalan kaki dari plang tersebut menuruni anak tangga hingga ke lokasi pemandian dengan jarak sekira 300 meter. Pemandian terdapat di penghujung anak tangga yang oleh warga setempat disebut sebagai pemandian Uwe Molino. Pemandian itu merupakan sebuah kubangan air lantaran air yang mengalir dari dua anak sungai yang bertemu di tempat tersebut.

Di lokasi pemandian itu, pengunjung bisa duduk dan beristirahat di atas bongkahan batu di sekitar pemandian atau akar pohon yang timbul dari permukaan tanah. Tidak ada air minum atau makanan ringan yang dijual di pemandian itu. Pengunjung harus membawa sendiri sejak memasuki tempat tersebut. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung atau kios di Desa Tontouan.

Lokasi pemandian Uwe Molino bisa dibilang sebagai lokasi pemandian yang terdekat jika ditempuh dari dalam kota Luwuk. Hanya dengan 10–15 menit, pengunjung bisa sampai di lokasi tersebut. Bahkan, di tempat itu, pengunjung bisa menikmati suasana alam dengan segala kesejukan secara gratis. Tidak ada biaya khusus yang harus dikeluarkan untuk menikmati pemandangan wisata alam di tempat tersebut.

Penangkaran Burung Maleo di Taima
Burung maleo atau bahasa latinnya macrocephalon maleo, adalah harta karun alami bagi Sulawesi dan bagi seluruh dunia. Namun burung Maleo yang sangat mengagumkan itu terancam punah. Dengan keterlibatan penuh AlTo bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk melindungi burung maleo di tempat bertelur komunal mereka di dekat Desa Taima, wilayah Tompotika.

AlTo secara bahu membahu mengawasi tempat bertelur tersebut untuk memastikan bahwa burung maleo dewasa bisa bertelur tanpa gangguan, telur-telur tetap aman dari pengambilan, dan anak maleo bisa menetas secara alami, tanpa campur tangan apapun dari manusia.

Sejak kolaborasi ini dimulai pada tahun 2006, semua pengambilan telur maleo di tempat bertelur Taima ini sudah dihentikan, dan jumlah populasi burung maleo meningkat terus. Ini satu-satunya wilayah di dunia sejauh yang diketahui ini di mana jumlah burung maleo meningkat.

Burung maleo, yang sangat unik secara evolusi, adalah spesies “endemik” Sulawesi–artinya hanya ditemukan di Sulawesi, dan tidak ada di tempat lain. Dulu, burung maleo itu tersebar di mana-mana di seluruh Sulawesi. Alfred Russel Wallace, naturalis dari Inggris yang menjalajahi pulau Sulawesi pada tahun 1850-an, mengambarkan pantai Sulawesi yang “hitam dengan maleo.” Namun kini, kerusakan habitat dan pengambilan telur yang berlebih-lebihan telah menyebabkan penurunan populasi maleo yang tajam.  Sebenarnya, populasi maleo sudah menurun lebih dari 90% atau sudah betul-betul musnah di kebanyakan daerah di Sulawesi.

Burung maleo yang mudah dikenali itu juga mengambil peran yang penting dalam budaya dan tradisi Sulawesi. Bentuk maleo terlihat di mana mana di Sulawesi sebagai ciri khas Sulawesi dan simbol kebanggaan rakyat. Di wilayah Kepulauan Banggai, ada juga tradisi Tumpe yang berpusat pada telur maleo. Kepunahan burung maleo merupakan kehilangan yang sangat besar bagi warisan budaya Sulawesi. Tetapi masih ada waktu untuk mencegah malapetaka ini!

Burung maleo mempunyai kisah hidup yang sangat unik. Burung maleo dewasa berpasangan sehidup semati, dan utamanya hidup di dalam hutan asli Sulawesi. Namun, waktu si betina sudah siap untuk bertelur, pasangan maleo itu berjalan kaki berkilo-kilo ke tempat bertelur komunal, yang biasanya terletak di pesisir pantai, atau di dekat mata air panas di dalam hutan.

Di sana, pasangan maleo itu menggali lubang yang besar di dalam pasir atau tanah selama berjam-jam. Di dalam lubang tersebut, burung maleo betina itu menelurkan satu butir telur yang sangat besar. Hanya satu! Badan burung maleo seukuran ayam, sedangkan telur maleo besarnya enam kali lipat telur ayam!

Kalau sudah bertelur di dalam lubang, pasangan maleo itu menguruk telur tersebut dengan pasir dengan kedalaman yang mencapai 1 meter. Kemudian, mereka pulang lagi ke hutan, sementara telur dibiarkan untuk dipanasi oleh matahari atau panas bumi. Kalau tidak diganggu, sesudah 60-80 hari telur itu menetas di dalam pasir. Begitu menetas, anak maleo menggali selama 24-48 jam ke atas untuk mengirup udara segar di alam bebas. Sesudah beristirahat selama beberapa menit, anak maleo langsung terbang ke arah hutan, untuk hidup secara mandiri tanpa bantuan induknya.

Pantai Kilolima   
Pantai Kilo Lima; Obyek wisata alam ini merupakan pesona wisata yang indah dan bersih yang terletak di dekat jantung Kota Luwuk. Obyek wisata ini memberikan banyak fasilitas dan beragam masakan khas daerah dan dari luar daerak Kabupaten Banggai yang tersedia di kafe-kafe di sepanjang kawasan wisata. (luwukpost)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *